Share ke media
Populer

Inilah Alasan Sofyan Hasdam Hengkang dari Golkar

11 Jul 2018 11:00:44770 Dibaca
No Photo
Photo Ilustrasi : A. Sofyan Hasdam dengan dua latar belakang yang berbeda

DigitalNews.id - Samarinda - Setelah lama tidak terdengar, akhirnya Sofyan Hasdam yang pada saat pilgub Kaltim kemarin menjadi Cagub Kaltim dari Partai Golkar, tiba-tiba berpindah baju dan menjadi caleg DPR RI dari partai Nasdem. 

Baca juga : Sofyan Hasdam hengkang ke NasDem

Menanggapi hal tersebut, Sofyan Hasdam menyampaikan latar belakang keluar dari Partai Golkar yang telah lama membesarkan dirinya, mengutip rilis yang disampaikannya melalui media sosial adalah sebagai berikut: SEKILAS LATAR BELAKANG PAMITNYA SAYA DARI GOLKAR. sebagai berikut :

Pada dasarnya, rasa kurang nyamanlah yg membuat saya keluar dari Partai Golkar. Baik yang saya rasakan maupun yg dirasakan juga oleh rekan-rekan di internal Golkar. Sebagai kader lama di Golkar, ini adalah keputusan yg sangat berat. Puluhan tahun, sejak masih di Timor Leste sampai mengabdi di Kota Bontang sebagai walikota dua periode, saya dan Golkar sudah seperti bayang-bayang sendiri. 

Seiring sejalan bersama keseluruhan dinamika karir politik yg saya arungi. Olehnya itu, demi untuk permakluman dan pemahaman bersama, demikian pula sebagai penjelasan ke khalayak; saya merasa perlu untuk menyampaikan kronologi keputusan ini sebagai berikut: 

1. Pada struktur kepengurusan DPP Partai Golkar, saya diamanahi jabatan Ketua Bidang PP wilayah Kalimantan. Sekaligus merangkap sebagai Plt. Ketua DPD l Kaltim. Tugas utama saya adalah menyiapkan pelaksanaan Musdalub, yang kemudian berhasil mendudukkan Ibu Rita Widyasari sebagai Ketua Definitif DPD I Golkar Kaltim; 

2. Dinamika ini berjalan lancar sampai kemudian menetapkan Ibu Rita Widyasari sebagai Calon Gubernur. 

3. DPD l sesuai tradisi organisasi membuka konvensi untuk calon Wakil Gubernur pendamping Rita Widyasari. Saya dan 8 kandidat lainnya mendaftarkan diri dlm seleksi tersebut;

4. Sebagai peserta konvensi, saya kemudian melengkapi semua hal yang dipersyaratkan termasuk hasil survei LSI yg menempatkan saya sebagai pendamping Rita Widyasari pada skor elektabilitas tertinggi;

5. Proses konvensi saya kemudian terhambat dan tidak saya lanjutkan karena Ibu Rita berdasar informasi valid yg saya terima tdk berkenan dg saya. Selain itu Ketum waktu itu, Setya Novanto menyampaikan ke saya bhw Ibu Rita Widyasari akan dipasangkan dgn Pak Safaruddin di Pilgub 2018;

6. Peta Pilgub berubah drastis. Tak terduga, Ibu Rita Widyasari tersangkut kasus di KPK. Proses hukum yg telah berjalan dan diprediksi akan berlangsung lama membuat DPP kemudian menunjuk saya sebagai Plt. Ketua DPD I Kaltim;

7. Kontroversi kemudian muncul. Sebagian pengurus DPD menganggap tdk perlu ada Plt. Ibu Rita Widyasari bisa mengendalikan DPD Golkar dari tahanan. Saya yg ditugaskan oleh DPP Golkar sebagai Plt kemudian menjadi sasaran fitnah. Beberapa oknum pengurus menghembuskan rumors bhw saya akan melakukan reshuffle besar-besaran dan menghabisi semua orang Ibu Widyasari;

8. Menanggapi issu ini, Ketua-ketua DPD II dan beberapa pengurus DPD I menghadap Pak Airlangga Hartarto yg telah ditetapkan sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar;

9. Pak Airlangga kemudian menyampaikan ke saya agar tdk melakukan perombakan pengurus karena saya hanya Pelaksana Tugas. Saya melakukan klarifikasi ke beliau bhw hal tersebut hanya isu. Apalagi saya sama sekali tak pernah mengusulkan ke DPP sebagsi pemegang otoritas penerbitan SK.;

10. Saat Munaslub berlangsung, sebagai Plt. saya kemudian memimpin rekan-rekan dari Kaltim untuk menghadirinya. Tak saya duga, Ketua-ketua DPD ll dipimpin oleh sdr. Zainudin melakukan pembangkangan keras. Mereka menolak masuk ruangan kecuali 3 Ketua DPD II, itupun tidak full time;

11. Guna mencari titik temu, saya menemui mereka di lobby gedung JCC. Disepakati kemudian untuk bertemu di Balikpapan;

12. Di Balikpapan mereka kemudian meminta agar segera dilaksanakan Musdalub. Saya menyampaikan argumentasi logis bhw sangat riskan melaksanakan Musdalub di tengah proses penetapan calon gubernur. Musdalub akan sangat berpengaruh secara konsolidatif terutama jika saya yg ditetapkan sebagai Cagub. Terbukti kemudian, saya ditetapkan sebagai Calon Gubernur dari Golkar;

13. Setelah Munaslub selesai digelar di Jakarta, nama saya kemudian sudah tidak ada lagi di jajaran pengurus DPP Golkar. Besar dugaan saya kalau ini ada kaitan dg kisruh di DPD l Golkar Kaltim);

14. Sementara proses pencalonan gubernur berlangsung hangat. Beberapa Ketua DPD II memperjuangkan Bapak Makmur HAPK. Beberapa yg lainnya ada juga yg mengusung Pak Safaruddin. Sementara saya berjuang sendiri di DPP dgn memanfaatkan hasil survei terpercaya yg menempatkan saya pada posisi tertinggi dari semua kader yg maju;

15. Penetapan calon Gubernur kemudian dilakukan di batas akhir pendaftaran dengan lobi Golkar - Nasdem yg memutuskan saya berpasangan (alm) Nusyirwan Ismail;

16. Setelah penetapan Cagub Golkar-Nasdem dilakukan , desakan untuk Musdalub malah semakin kencang. Saya, bersama ketua AMPG, M.Husni Fachrudin kemudian menyampaikan ke DPP agar Musdalub ditunda dulu dg alasan akan berdampak negatif pada konsolidasi pemenangan;

17. Musdalub ditunda, tapi saya sebagai Ketua Plt dicopot dan diganti oleh pak Mukhtarudin. Ini berakibat tertutupnya akses saya ke DPD ll. Penggantian ini membuat saya seperti tentara yg dilucuti senjatanya ditengah medan perang; 

18. Kekhawatiran saya terjadi. Beberapa kali, saat saya ke kecamatan utk sosialisasi, Ketua PTK yg diundang menghadiri acara sosialisasi menolak hadir dg alasan belum ada perintah dari DPD II. Saya merasa diboikot oleh partai saya sendiri. 

Demikian beberapa coretan alam perasaan saya yg tdk mungkin dapat saya curahkan secara lengkap. Bukan karena kalah lantas saya memutuskan untuk meninggalkan Golkar, namun suasana yg tidak nyaman dan tidak harmonislah yang membuat saya merasa lebih nyaman untuk berada diluar. Saya juga merasa yakin bahwa kepergian saya akan memberi rasa nyaman bagi beberapa rekan di DPD2 dan juga di DPD I Golkar Kaltim. Akhirnya saya ucapkan semoga kinerja Partai Golkar akan lebih maksimal menghadapi Pileg 2019. Mohon maaf sebesarnya jika ada hal2 yg tidak berkenan. 

Wassalam A.Sofyan Hasdam.

Penjelasan yang melatar-belakangi hengkangnya Sofyan Hasdam dari Partai Golkar yang membesarkan namanya dikancah politik tanah air selama ini, diungkap melalui medsos hari ini Rabu, 11/07/2018 (*red/A/dr)