Share ke media
Keagamaan

Islam, Public Enemy Number One

28 Nov 2018 08:00:1451 Dibaca
No Photo
Ilustrasi : https://www.portal-islam.id/2017/06/lautan-umat-muslim-indonesia-shalat.html

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengklaim telah melakukan pemetaan, hingga pemantauan ke 41 dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terpapar radikalisme versi Badan Intelijen Negara (BIN). 

Pemantauan dan pemetaan dilakukan Polri dengan menggandeng sejumlah instansi terkait seperti Kementerian Agama (Kemenag) dan pemerintah daerah. “Polri sudah masuk ke situ,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjend. Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (26/11).

Menurut dia, pihaknya juga memberikan edukasi serta pencerahan dalam aktivitas pemantauan dan pemetaan itu. Di sejumlah masjid tersebut, lanjutnya, pihak kepolisian pun mensosialisasikan tentang bahaya radikalisme. Dedi mengimbau masyarakat agar menyeleksi paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (dikutip dari CNN Indonesia) 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Radikalisme berarti paham atau aliran yang radikal dalam politik atau juga paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan secara drastic. Parahnya radikalisme selalu dikaitkan dengan Islam. lihat saja berita yang beredar hasil laporan BIN. 41 dari 100 masjid terpapar radikalisme. 

Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin, tempat penyelenggaraan perayaan agama Islam dan hal-hal yang memang berhubungan dengan islam. jika masjid sudah distigma radikalisme apa yang terpikirkan? Bahwa muslim “radikal”. Bahwa muslim suka kekerasan. 

Ini jelas tidak adil. Memang tidak bisa dipungkiri ada kaum muslimin yang reaktif, namun jelas bukan representasi umum ajaran Islam. Tidak bisa juga radikal dihubungkan dengan Jihad. Ini sangat beda. Berkaca pada Dakwah Rasulullah SAW, Islam adalah agama damai. Ujaran ini bukan isapan jempol. Sebagaimana Rasulullah mengajarkan. 

Beliau SAW mensyiarkan Islam dengan dialog intelektual dengan mengutus Mus’ab bin Umair ke Madinah untuk berdialog dengan pemuka suku Aus dan Khajraj. “Dengarkan aku wahai Saad, jika kau setuju maka kau harus membenarkan dan memeluknya, jika kau tak setuju maka silakan tinggalkan aku”, begitu kata Mus’ab

Lalu bagaimana dengan Jihad. Jihad dilakukan oleh kaum muslimin saat dakwah Islam menemui jalan buntu. Artinya menjadi opsi terakhir bagi Islam jika dakwah lisan dan hikmah tidak bisa berjalan. Inipun dilakukan saat Islam menjelma dalam sebuah institusi negara.  Sebagaimana saat Rasulullah mengutus duta ke Romawi agar Romawi tunduk pada Islam. 

Sedang hari ini tidak bisa disebut dengan jihad jika ada kaum muslimin yang melakukan kekerasan. Namun bukan berarti Islam tidak bisa bersikap tegas. Keras dan tegas ini harus dipisahkan. Seperti missal kasus pembakaran symbol Islam. aksi yang dilakukan oleh kaum Musimin semata mendesak pihak yang berwenang untuk mengusut pelakunya dan dihukum sesuai hukum yang berlaku. Atau masalah terror bom yang katanya dilakukan oleh kaum teroris. 

Hal inipun sekali lagi dihubungkan dengan islam. padahal belum tentu yang melakukan terror tersebut Muslim. Lalu bagaimana dengan OPM di Papua?. Seharusnya perlakuannya sama. karena mengusung kekerasan. Namun Cuma Islam yang dicurigai, kenapa aktivitas gereja dan klenteng sedikitpun tidak pernah dihubungkan dengan gerakan radikalisme. 

Islam Pubrik Enemi Number One Akar masalah munculnya radikalisme bisa jadi dipicu oleh kesenjangan ekonomi. Gap antara si miskin dan si kaya begitu besar, sehingga memunculkan tindak kekerasan. System ekonomi kapitalisme secara dasar memang memunculkan tidakan ini. Kebebasan individu dalam menguasai sumber daya ekonomi memicu tindakan perampasan dan ketidakadilan. Sebagai contoh privatisasi air bersih. Padahal rakyat adalah pemiliknya. 

Radikalisme bisa juga dipicu kebijakan barat atas negeri Muslim. Palestina, Suriah, Rohingya, Khasmir adalah sebagian contoh kecil yang bisa diakses oleh semua penduduk dunia. Bagaimana perlakukan Barat atas negeri tersebut. Israel merampas tanah Palestina, rezim Asad memblokade akses penduduk Suriah dan memborbadir wilayah-wilayah yang disinyalir dikuasai oleh kelompok militan ada di sana. Atau pembantaian etnis Rohingya oleh para biksu budha yang didukung pemerintah Burma. Lalu perebutan tanah subur Kashmir oleh India dan Pakistan. Semua memicu kekerasan. 

Namun menurut saya akar masalahnya adalah kedengkian barat atas kaum muslimin. Sejarah mencatat kekalahan pasukan salib dengan pasukan Islam selama kurang lebih 2 abad memacu barat untuk memutar otak mengalahkan kaum Muslimin hingga tuntas. Dan agar kaum muslimin tidak mencintai agamanya atau abai dengan ajarannya. 

Hal paling pokok kemenangan Barat adalah hancurnya institusi Islam dan mereduksi ajaran Islam. Lalu menstigma Islam dengan stigma Radikal. Melakukan monsterisasi symbol Islam seperti panji Tauhid itu milik salah satu ormas islam yang telah dilarang. Satu-satunya cara untuk melawan adalah meluruskan kembali ajaran Islam yang benar. 

Dialog intelektual dan keteladanan menjadi kunci kemenangan Islam suatu saat kelak. Pendulum perdaban itu akan kembali berputar kearah Islam. wallahu’alam bi showab (*Red/dr)

Dwi Agustina Djati (pemerhati berita) November 2018