Share ke media
Populer

Lewat Kontrol Sosial, Islam Terjaga

08 Dec 2018 01:00:2941 Dibaca
No Photo
Ilustrasi : Swamedium Dotcom : Kondisi yang sama yang telah terjadi dalam rangkaian gerakan 212. Yang pertama saat Aksi Bela Islam 2 Desember 2016, kemudian saat Reuni 212 yang pertama pada 2 Desember 2017 lampau dan kini saat reuni 212 kedua yang baru saja selesai.

Petugas kebersihan dari Unit Pengelolaan Teknis (UPT) Monas, Hendro mengaku pekerjaannya menjadi lebih mudah karena peserta Reuni Akbar 212 telah mengumpulkan sampahnya sendiri. “Alhamdulillah yang besar dan kasar udah dikumpulin, kita tinggal sapu yang kecil-kecil saja,” kata Hendro yang bertugas di pintu keluar arah Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Ahad, 2 Desember 2018. 

Sampah yang masih berserakan di halaman Monas di antaranya sedotan plastik air minum, puntung rokok dan sobekan kertas. Sedangkan kardus-kardus minuman dan bungkus makanan kebanyakan sudah dimasukkan ke dalam kantong sampah. “Sejak awal massa Reuni Akbar 212 memang punya relawan sampah,” kata Hendro

Hendro mengatakan, petugas kebersihan UPK Monas yang bekerja hari ini berjumlah 31 orang. Walau telah dikumpulkan, ujar dia, petugas masih butuh banyak waktu untuk mengangkut dan membuang sampahnya dari Monas. “Kan keliling, jam enam nanti juga belum tentu kelar,” katanya. 

Peserta Reuni Akbar 212 telah membubarkan diri sejak pukul 11.30. Tidak lama kemudian, petugas kebersihan UPK Monas langsung menyapu dan membersihkan sampah. Setengah jam kemudian, road sweeper atau mobil penyapu jalan milik Dinas Lingkungan Hidup DKI mulai dioperasikan. 

Pada acara Aksi Bela Islam Jilid III, 2/12/2016,  para peserta juga mengumpulkan sampah yang mereka bawa ke sejumlah lokasi yang sudah disiapkan panitia. Selain menjaga kebersihan, mereka juga tidak menginjak rumput dan tanaman di Lapangan Monas.  Tindakan itu mendapat pujian dari pengelola kawasan Monas. 

Setahun berikutnya, ketika digelar acara Reuni 212,  pada 2/12/2017,  para peserta juga menjaga kebersihan kawasan Monas dengan mengumpulkan sampah dan menjaga tanamannya. Dan ketika ini, aksi simpatik dilakukan peserta Reuni Akbar 212 yang berlangsung pagi hingga siang, Minggu 2 Desember 2018. (Tempo.co, 2 desember 2108). 

Kontrol Sosial Umat Rasanya tak habis untuk membicarakan aksi damai 212 pada 2/12 lalu. Berbagai catatan, tulisan, cuitan hingga nyinyiran menunjukkan betapa pengaruh aksi ini luar biasa. Aroma Rahmatan lil Alamin begitu terasa. Banyak pujian dilayangkan untuk aksi ini. Mereka tidak hanya berkumpul, namun sangat menjaga ketertiban umum. 

Panitya sungguh telah berhasil mentransfer tata aturan aksi dengan baik. Sedang peserta aksi juga mematuhi aturan aksi dengan penuh kesadaran. Mereka paham sekecil apapun kesalahan akan merugikan umat Islam. mereka juga paham kedatangan mereka ke Jakarta bukan untuk berbuat rusuh, apalgi anarkis. Namun datang dengan niat lurus menyampaikan aspirasi membela panji-panji Tauhid yang mulia. 

Ya aksi ini adalah aksi damai sebagaimana yang di contohkan Rasulullah SAW. Saat dakwah Mekkah seorang sahabat Abdullah ibnu Mas’ud selalu berdiri di depan Ka’bah membacakan kalam Illahi. Ibnu Mas’ud mengajak kebaikan kepada pemimpin Mekkah untuk tunduk pada aturan islam yang mulia tanpa kekerasan dan tanpa senjata. 

Inilah contoh control social dimasa Rasulullah. Foto dokumentasi tidak bisa membohongi bahwa peserta aksi memang melakukan ketertiban, bahkan rumput taman di sekitar Monaspun tidak terijak oleh kaki-kaki mereka, apalagi rusak. Jadi jika ada yang nyinyir terkait dengan aksi damai tentu hal ini terpatahkan dengan sendirinya. 

Memang setiap aksi pasti akan ada efek. Lalu lintas yang padat, jalur tranportasi yang rame, yang pasti sampah menggunung. Namun bukankah itu efek yang biasa terjadi jika ada perhelatan akbar? Lihat saja Asian Games, Piala AFF, festival festival yang diselenggarakan di berbagai tempat. Semua berefek. Namun sedikitpun tidak ada nyinyiran, karena semuanya adalah biasa. Semua pasti sudah diantisipasi oleh pihak penyelenggara. 

Lalu kenapa jika kaum muslimin yang melakukan aksi selalu saja hal ini jadi framing media-media mainstream. Seolah ingin mengatakan aksimu bikin ruwet dan nyampah saja, tanpa melihat dengan obyektif. 

Muhasabah Lil Hukam Bagian Ajaran Islam Apa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada setiap moment 2/12 saya kira bukan sekedar momet pertemuan reuni biasa. Bukan sekedar seremoni-seremoni sebuah acara, namun lebih kepada upaya rakyat melakukan control social atas apa yang dilakukan oleh para pemangku negeri. 

Tak bisa dipungkiri 5 tahun belakangan sebelum adanya peristiwa penista agama, gesekan isu agama sudah terjadi. Stigma radikalisme, terorisme telah dilekatkan pada kaum muslimin. Separatime, bom bunuh diri, rongrongan ideology Negara selalu tersemat pada Islam. selalu Islam, bukan yang lain. Padahal bisa jadi bibit separatisme juga dimiliki oleh pemeluk agama lain, akibat ketidak adilan. Namun tetap saja Islam yang menjadi public enemy number one bagi penguasa. 

Moment penista agama di tahun 2016 yang mampu menggerakkan 7 juta orang sesungguhnya menunjukkan adanya ‘embrio’ kebangkitan dari dalam diri umat yang sekian lama diam saat terinjak. Pun demikian dengan 2018, saat oktober lalu symbol Tauhid dibakar bahkan oleh mereka yang mengklaim saudara seagama tersebab beda pandangan. 

Pikiran dan perasaan kaum muslimin mulai menyatu. Ini tidak benar. Saatnya bergerak membela agama. Saatnya ikut berkontribusi melakukan muhasabah sebagaimana Abdullah ibnu Mas’ud. Saatnya para penguasa diajak untuk melihat dengan benar apa yang terjadi di wilayah kewenangannya. Islam di pojokkan. Islam di tekan. Sudah menjadi kewajiban bagi umat untuk mengingatkan penguasa atas peristiwa yang melukai umat. 

Atas kesadaran ini maka tak heran jika berjuta-juta orang membanjiri Ibukota dengan satu tujuan “Bela Tauhid”. Bela Islam. Muhasabah lil Hukam adalah bagian dari control social yang diajarkan oleh Islam. tanpa kekerasan tanpa senjata dan tanpa anarkisme. Dilakukan dengan elegan dan focus pada masalah yang akan dituntut. Bukankah ini sebuah episode yang akan diingat oleh sejarah. 

Sejarah kebangkitan umat yang selama bertahun tahun terkungkung oleh sekat ormas, sekat mahzab bahkan sekat ustad. Benar adanya jargon “Lelah Berpisah, Saatnya Berjamaah”. Sebuah jargon yang menyatukan meski berbeda. Bukankah ini nilai nilai Islam yang dicontohkan junjungan kita Muhammad SAW. Kini sungguh terwujud dalam bentuk aksi massa. 

Harapan dari acara 212 tentu adalah persatuan umat yang hakiki. Persatuan yang tidak mudah untuk dihancurkan karena perbedaan. Perbedaan adalah rahmat seperti yang termaktub dalam Sunnah Rasulullah SAW : “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37). Wallahu’alam bi showab. 

Oleh : Dwi Agustina Djati, S.S (pemerhati Berita)