Share ke media
Opini Publik

Stunting di Negeri Kaya SDA, Bagai Ayam Mati di Lumbung Padi

13 Nov 2022 12:00:53124 Dibaca
No Photo
gambar ilustrasi : Rumah sakit panti rapih, Yogyakarta - Mencegah stanting pada anak - 27 Juli 2021 ( Inset penulis : Nur Haya, S.S (Pemerhati Masalah Sosial))

Sangatta - Negeri kaya SDA sudah menjadi julukan negeri Indonesia. Secara alami, kaya itu identik dengan kesejahteraan dan kecukupan. Namun bila dilihat dengan sungguh-sungguh dan mendalam, bagaimana kehidupan negeri ini dan kondisi rakyat didalamnya justru bertolak belakang dari kata kaya. Pasalnya, banyak ditemukan pusat sosial dan reruntuhan di negeri ini. Selain itu, bukan di satu daerah saja melainkan hampir setiap wilayah angka reruntuhan meningkat dan pusat perhatian sosial itu ada.

Bukan hanya itu, kebutuhan pokok pun sangat mahal dan kadang langka di masyarakat. Tentu sekelumit masalah-masalah tersebut memberikan dampak yang berat bagi setiap kalangan masyarakat terutama kalangan bawah.

Misalnya saja, masyarakat jelata sudah melarat hidupnya ditambah lagi harga kebutuhan pokok mahal. Maka jelas menambah jangankan untuk berpikir memberi makanan bergizi, mereka makan saja dengan susah payah dalam sehari-hari. Sehingga kekurangan gizi tak bisa dinafikan terjadi pada mereka. Demikian angka stunting pun meningkat di masyarakat. Termasuk di wilayah Kaltim.

Kemudian pemerintah berupaya menekan angka stunting melalui PAUD dengan melibatkan Bunda PAUD se-kota Bontang. Pemberian makanan tambahan PAUD dianggap sebagai solusi untuk mengatasi stunting, namun stunting tidak dapat diselesaikan hanya dengan pemberian makanan tambahan. pada pola asuh dan pemenuhan gizi pada anak yang ditanggung oleh tingkat ekonomi keluarga yang mencukupi dan pemahamanan yang baik dan benar terhadap anak. (kitamudamedia.com, 26/10/22)

Tetapi itu tidak diberikan oleh sistem hari ini.   Jika pun ada, itu tidak lengkap dan tidak seimbang pada pola pengasuhan anak sehingga stunting pun tetap terjadi.

Stunting adalah   kondisi gagal tumbuh pada anak khususnya pertumbuhan tubuh dan otak akibat kekurangan gizi. Adapun penyebab stunting ada dua. Pertama, kesehatan yang kurang baik pada   ibu hamil. Kedua, kekurangan asupan gizi pada awal kehidupan dan masa balita sebab pola pengasuhan yang kurang tepat.

baca juga :  Bebas Stunting dengan Islam Kaffah

Stunting Merebak, Dimana Negara?

Masyarakat di mana pun, tentu tidak ingin mengkonsumsi makanan bergizi tetapi sebagian besar kemampuan ekonomi mereka memang tidak mencukupi untuk mengonsumsi asupan gizi yang cukup. Alias ​​​​miskin melarat dan pusat sosial yang begitu tinggi. Gagalnya negara menjamin kesejahteraan termasuk dalam memenuhi pangan individu yang dibebani per individu rakyatnya memang mutlak dilakukan. Sebab negara menerapkan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi ini berorientasi pada materi semata (untung rugi) yang sangat diskriminatif dan menguntungkan modal. Sementara rakyat selalu dianggap beban.

Nampak bagaimana negara menempatkan stunting sebagai beban negara. Potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan stunting mencapai 2-3 persen produk domestic   bruto (PDB) atau kisaran   RP 260 triliun-Rp 390 triliun per tahun.   (Republika.co.id)

Inilah bentuk lepas tangan negara dalam mengurusi rakyat dan mengayominya. Sebab dalam sistem demokrasi-kapitalisme, negara hanya difungsikan sebagai regulator untuk mewujudkan seluruh kepentingan pemilik modal yang telah menyokong mereka dalam merebut kursi kekuasaan. Jadilah rakyat seperti ayam mati di lumbung padi. Karena hidup di negeri kaya raya sumber daya alam namun terhimpit kelaparan sebab kondisi miskin.

Di samping itu, penerapan sistem ekonomi kapitalisme meniscayakan distribusi logistik pangan yang tidak merata. Dengan demikian berimplikasi pada semakin tajamnya ketimpangan sosial di kalangan masyarakat. Sehingga tak bisa dipungkiri lagi sistem kapitalisme telah gagal mensejahterakan rakyat sampai menjamin terpenuhinya kebutuhan pangan (gizi) bagi rakyatnya secara adil.

Demikian bisa ditarik benang merahnya, menyelesaikan masalah melalui jalan yang sama yakni tetap menggunakan sistem demokrasi kapitalisme sudah pasti tidak menyentuh akar masalahnya melainkan membuka masalah baru yang notabene makin memperkeruh masalah-masalah yang ada dan menambah keterpurukan.

Sistem Islam Solusi Stunting

Berbeda jauh dengan negara Islam (Khilafah Islamiyyah). Islam justru sangat berhati-hati memastikan rakyat apakah memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan menyeluruh atau masih ada yang tidak terurusi. Negara   Islam secara alami akan menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya. Hingga mampu mencegah stunting pada balita. Sementara yang dimaksud kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan rakyatnya. Islam sudah mengatur negara khalifah (kepala) adalah sebagai penanggung jawab atas urusan rakyatnya melalui penerapan aturan Islam secara menyeluruh dan sempurna.

Beberapa bentuk kebijakan dalam khilafah yang menjamin kesejahteraan setiap rakyat individu per individu yakni:

Pertama, Islam memerintahkan setiap laki-laki untuk bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin kesejahteraan warga negaranya. Jaminan langsung seperti   pendidikan, kesehatan gratis, keamanan dan kebutuhan pokok. Namun wujud jaminan ini tidak langsung berupa tersedianya lapangan pekerjaan yang besar. Untuk bisa menyediakan lapangan kerja yang sangat besar, maka negara harus mengelola SDA secara mandiri.

Bila mampu mengelola sumber daya alam secara mandiri, otomatis akan membuka lapangan kerja di banyak lini. Dari tenaga ahli hingga tenaga terampil, sehingga tidak ada gerakan. Terlebih lagi, jika pengelolaan dilakukan di semua jenis SDA. Selain itu, negara juga   akan menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif. Antara lain, melalui sistem administrasi dan pegawai yang mudah, cepat, dan tanpa biaya.

Kedua, jika masih tetap individu tidak mampu maka beban tersebut dialihkan pada ahli warisnya.

Ketiga, jika kerabat tidak mampu atau tidak ada, maka beban itu beralih pada baitul mal yaitu kepada negara.

Keempat, Islam juga menetapkan kebutuhan   dasar berupa pelayanan yang bermutu, yaitu pendidikan, kesehatan,   keamanan, negara yang dijamin mutlak. Pemenuhan atas tiga aspek pelayanan itu bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Semua jaminan itu didukung dari pendapatan negara di baitul mal, yang bersumber dari:

Pertama, hasil pengelolaan hak milik umum seperti tambang mineral, migas, batubara, emas, dan lain sebagainya.

Kedua, hasil pengelolaan fai’, kharaj, ghanimah, jizyah, usyur, dan harta milik negara lainnya serta BUMN selain yang mengelola harta milik umum.

Ketiga dari harta zakat. Hanya saja zakat bukan mekanisme ekonomi tetapi zakat adalah ibadah yang ketentuannya bersifat tauqifi.

Keempat, sumber pemasukan temporal yakni infak, wakaf, sedekah, dan hadiah, harta ghulul(haram) penguasa, harta orang mutlak, harta warisan yang tidak ada ahli warisnya, dharibah (pajak) dan lain-lain.

Semua kebijakan itu akan mencegah terjadinya kelaparan pada rakyat baik ibu, perempuan, laki-laki maupun anak-anak. Serta terjamin pangan (gizi) mereka. Dengan demikian tidak ada jalan bagi persoalan bangsa ini melainkan kembali pada pangkuan kehidupan islam.

Wallahu a’lam bishowab

Oleh: Nur Haya, SS   (Pemerhati Masalah Sosial)

 disclaimer : Tulisan ini merupakan partisipasi individu masyarakat yang ingin menuangkan pokok-pokok fikiran, ide serta gagasan yang sepenuhnya merupakan hak cipta dari yang bersangkutan. Isi, redaksi dan narasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.