Share ke media
Populer

Teroris Reuni Saat Natal dan Tahun Baru

27 Dec 2018 05:00:39131 Dibaca
No Photo
Ilustrasi : Personel Densus 88 melakukan penjagaan saat rekonstruksi penangkapan terduga teroris di jalan Kaliurang, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Kamis 22/11/2018 | Photo : Hendra Nurdiansyah | Antara

Jelang natal kemarin dan jelang akhir tahun dan memasuki tahun baru selalu dilekatkan dengan aksi teroris. Seolah para teroris melakukan reuni dengan memanfaatkan moment ini. Mediapun memberitakan terorisme minimal adanya penyergapan pelaku teroris, antisipasi dan sterilisasi gereja dan tempat perayaan tahun baru, termasuk dikerahkannya ribuan personel TNI, Polri dan Unit Gegana Satuan Brimob termasuk Detasemen Khusus/ Densus 88. 

CNN Indonesia memberitakan, jelang natal dan tahun baru, 21 terduga teroris ditangkap. Penangkapan ini dilakukan disejumlah wilayah Indonesia dalam sebulan terakhir, sejak November hingga Desember 2018 (CNN.Indonesia.com,19/12/2018). Begitu pula media merdeka memuat 940 polisi disiagakan cegah aksi terorisme jelang natal dan tahun baru di Riau. Beberapa hari lalu, tim Densus 88 Anti Teror mengamankan tiga terduga teroris berhasil ditangkap di Riau menjelang perayaan natal dan tahun baru (merdeka.com,22/12/2018). 

Selain penangkapan, polisi juga monitor sel tidur teroris jelang tahun baru. Selain mengerahkan Densus dan kepolisian daerah, Polri menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah paham radikalisme di masyarakat. tak kurang tokoh agama dan tokoh masyarakat wajib hukumnya dilibatkan, guna mencegah bangunnya sel tidur itu (CNN.Indonesia.com, 28/11/2018). 

Demikianlah beberapa pemberitaan media terkait terorisme menjelang natal kemarin dan tahun baru. Tentunya ini tidak serta merta hadir tanpa arahan dari pemerintah. Pemerintah termasuk aparatur Negara memang peduli dan tanggap terhadap aksi terorisme ini. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa hal ini tidak berlaku bagi perayaan umat Islam? Mengapa “framing jahat” isu terorisme ini dilekatkan hanya pada Islam? Nasrudin Joha dalam tulisannya “Reuni Teroris ala Densus” mengatakan framing jahat isu terorisme terhadap Islam sangat mudah diendus setidaknya dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, isu terorisme selalu dikaitkan dengan motif keagamaan yang khas menjadi bagian dari ajaran Islam. Terorisme dilatarbelakangi jihad, pendirian daulah Islam, khilafah, dan motif agama yang lekat dengan Islam. Kedua, kejahatan terorisme sesadis apapun meskipun membunuh nyawa dan merusak fasilitas publik, menebar teror dan ancaman namun jika motifnya ingin membentuk negara baru yang bukan Islam seperti yang dilakukan OPM ingin memisahkan diri dari NKRI, menuntut kemerdekaan tidak akan pernah disebut teroris. Ketiga, pengungkapan ciri-ciri fisik dan kebiasaan teroris yang dilekatkan dengan Islam. Seperti berjenggot, celana cingkrang dan rajin ibadah. Keempat, pengungkapan riwayat hidup teroris yang juga dilekatkan dengan Islam. Misalnya, alumni pesantren dan aktivis dakwah. Kelima, jika terbukti aksi gagah-gagahan yang menggunakan kekerasan bahkan bom namun pelakunya bukan Islam buru-buru diklarifikasi itu hanya kriminal biasa bukan terorisme

Dari hal-hal di atas dapat dianalisis bahwa isu terorisme memang merupakan upaya memojokkan Islam dan umat Islam sebagai sumber dan pelaku teror. Perang melawan terorisme adalah proyek barat untuk menjauhkan umat Islam dari Islam, memojokkan Islam, dan menghadang kebangkitan Islam. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari skala dunia seperti penindasan muslim Uighur di Xinjiang oleh rezim China disebut memerangi terorisme. 

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak boleh terprovokasi oleh propaganda soal terorisme berlatar Islam. Jangan ikut merayakan reuni terorisme, itu cuma proposal pihak yang jahat terhadap Islam. Itu bisnis darah menganggap enteng nyawa manusia. Jika ikut reuni teroris berarti ikut andil membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah swt. Termasuk juga aparator Negara, khususnya Densus 88 hendaknya jangan langsung bunuh terduga teroris, karena masih diduga. Mediapun demikian berlakulah wajar, jangan melebihkan dan menggiring opini terorisme sehingga membuat tersinggung dan melukai hati umat Islam. 

Bisa dikatakan proyek perburuan terorisme ini bentuk teror untuk umat Islam. Dengan demikian, penting meluruskan pandangan dan menjelaskan dengan jernih tentang syariah Islam, khilafah, dan jihad. Tentu agar tidak phobia dan monsternisasi terhadap ajaran Islam lagi. 

Disinilah peran dakwah, semoga tidak ada lagi reuni teroris berlatar Islam dan umat sadar tidak ada yang namanya memerangi umat Islam berkedok memerangi terorisme karena umat Islam bukan teroris. Jangan jadikan stigma teroris hanya untuk Islam karena perilaku teror juga berlaku bagi mereka yang benci kedamaian. Wallahu’alam bishawab… (*Red/dr)

oleh : Rahmi Surainah, M.Pd warga Kutai Barat Kaltim