Share ke media
Populer

Fenomena Unik LKK di Penabalan Sultan Kutai

16 Dec 2018 07:00:38676 Dibaca
No Photo
Foto: Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI

Tenggarong, Kukar. Ada fenomena unik terlihat saat prosesi penabalan (penobatan) Putera Mahkota Haji Adji Pangeran Adipati Paraboe Anom Soerya Adiningrat menjadi Sultan ke XXI Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Fenomena sosial itu adalah munculnya ribuan orang yang berpakaian hitam-hitam yang sangat bersuka cita dan ikut membantu proses penabalan tersebut, baik dari sisi pengamanan dan kemeriahan acara.

Ternyata orang-orang berpakain hitam-hitam tersebut berasal dari organisasi masyarakat daerah yang bernama Laskar Kebangkitan Kutai atau yang lebih dikenal dengan sebutan LKK.

Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota se Kalimantan Timur, bahkan uniknya, ada sekitar ratusan orang yang datang menggunakan kapal feri dan berlabuh tepat pada malam hari (14/12/2018), sebelum hari H penabalan atau penobatan Sultan.

Berdasarkan pantaun digitalnews.id, LKK yang datang menggunakan kapal-kapal feri yang membawa sampan-sampan kecil, berasal dari Hulu Mahakam (Kecamatan Kembang Janggut, Muara Muntai dan Tabang Kabupaten Kutai Kartanegara), dari Kabupaten Kutai Barat di wakili oleh Kecamatan Muara Pahu dan dari pesisir pantai di wakili dari Desa Muara Kembang Kecamatan Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara.

Fenomena sosial yang terlihat adalah bagaimana cara hidup orang Kutai jaman dulu masih mereka lakukan di kapal-kapal tersebut. Perempuan-perempuan terlihat sibuk memasak di dek-dek kapal, dengan lauk pauk dari tangkapan para lelaki yang menggunakan pancing, jala dan hasil  keramba dan tambak yang telah mereka bawa dari kampung. Terlihat jelas sayur santan labu kuning, ikan dan udang serta sambal acan (terasi) diatas piring mereka. Mereka pun, terlihat mandi di atas kapal dengan tutup seadanya.

Sekitar jam 08.00 WITA (15/12/2018), terlihat konvoi rombongan LKK yang berasal dari Kota Balikpapan dan Kota Samarinda menggunakan puluhan kendaraan baik roda dua dan roda empat, dengan kibaran bendera-bendera ormas LKK, berkeliling di Kota Tenggarong dan akhirnya berkumpul di Museum Mulawarman.

Perpaduan sosial tradisional dan modern jelas terlihat, ada LKK yang menggunakan trasnportasi sungai berupa perahu atau sampan kecil, kapal-kapal feri dan ada yang menggunakan roda empat, bahkan LKK bontang, Kutai Timur dan Balikpapan menggunakan bus-bus berbadan besar untuk mengangkut anggota dan masyarakat Kutai di daerahnya.  Cara makan mereka pun berbeda-beda, ada yang memasak sendiri diatas-atas kapal, menginap di rumah keluarga besar mereka di Tenggarong dan ada juga yang makan dirumah makan, ini menandakan masyarakat Suku Kutai sudah mulai bertransformasi menjadi masyarakat modern tanpa meninggalkan ciri khasnya.

Mendampingi LKK juga terlihat Laskar Puteri Mayang Mangurai, perempuan-perempuan Kutai yang merupakan srikandinya ormas LKK, tampak bersemangat sekali menyambut hari bahagia bagi masyarakat Kutai yakni penabalan Sultan mereka.

Tampak LKK dan Puteri Mayang Mangurai berjejer rapi di pinggir jalan masuk Museum untuk menyambut para tamu dan berkumpul di tangga Museum untuk mendengarkan dan mengikuti Sumpah Abdi Suaka.  Mereka menyatakan diri bukan laskar atau organisasi kemasyarakatan pada umumnya, yang terlihat menampilkan kekerasan fisik, tapi mereka adalah laskar-laskar seniman adat dan budaya Kutai.

Mereka mengikut kesakralan acara penabalan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini dengan penuh khidmat, bahkan cuaca yang sangat panas pun, tidak membuat mereka bergeming sampai selesainya acara penobatan.

Setelah Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI yang bergelar Sultan Adji Muhammad Arifin ke pelataran Museum (eks Kedaton Kesultanan Kutai, yang saat ini Kedaton telah terpisah dengan Museum Mulawarman), untuk menyapa rakyatnya, kemudian mengucapkan Sumpah Abdi Suaka dan menyerukan kepada rakyatnya untuk menikmati persembahan Sultan berupa makanan tardisional Kutai yang disediakan secara cuma-cuma untuk menyambut kehadiran rakyat, barulah LKK terlihat membubarkan diri. (Red/Ary)