Share ke media
Populer

Rindu Husniisme, Hanguskan Radikalisme dan Intoleransi

21 May 2018 06:00:09508 Dibaca
No Photo

DigitalNews.id - Husniisme merupakan pemahaman berpikir manusia bahwa dirinya adalah manifestasi sebuah keindahan. Tangisan bayi yang baru lahir adalah sebuah keindahan, bayi menangis merupakan bentuk ekspresi takjub akan keindaham dunia bukan ketakutan dan kesedihan terlahir di dunia.  Memulai hidup dari rahim merupakan pertunjukan awal akan keindahan, Tidak perduli rahim tersebut atheis ataupun theis, karena sebenarnya rahim pengejawantahan keindahan.  Keindahan tersebut dipertunjukkan Tuhan tanpa hak memilih untuk terlahir dari genotipe pasangan manusia laki-laki dan perempuan tertentu.  Tidak akan pernah berkurang sebuah keindahan manakala pasangan yang menelurkan bibit sang anak tersebut plural dalam prinsip kenegaraanya baik itu nasionalis, islamis, liberalis, demokratis, monarkis, sosialis bahkan komunis. 

Sang anak teraneksasi masuk dalam bentuk manusia yang ada pada dirinya, terpapar begitu eksotis dan menawan, dalam varian kehidupan tersebutlah letaknya keindahan, tidak hanya bersifat biologis, psikis, sosiologis dan spiritualis semata, akan selalu muncul kepluralitasan lainnya sejalan dengan pengetahuan manusia yang selalu “hanya” menuju kebenaran.  Keindahan perbedaan pada manusia menyebakan kokohnya kebenaran dan terkikisnya pembenaran.  Karena kebenaran absolute tentu saja milik sang pencipta.

Keindahan pada manusia itu yang tergambar secara empiris melalui ras-ras atau bangsa-bangsa, bersuku-suku, berbeda warna kulit, bermacam agama, berjenis-jenis keyakinan, berwarnanya pemahaman dan kemampuan berpikir.  Keindahan menyebakan hilangnya egoisme pembedaan terhadap sebuah perbedaan, perbedaan-perbedaan pada diri manusia bukan untuk membentuk sekat agar terjadi himpunan pembedaan antara yang sama dan yang tidak sama. 

Indonesia adalah keindahan itu sendiri, keragaman, kesetaraan dan kesederajadan merupakan rangkaian heterogenitas dan multikultural yang termaktub dalam keindonesiaan yang bila dijalankan dengan prinsip keindahan akan menghasilkan kesadaran sosial, solidaritas sosial dan integrasi sosial menuju tatanan masyarakat yang berempati dan bertoleransi bukan hanya di ruang publik namun menyentuh ke ruang private.  Bukan hanya di Indonesia, bahkan di dunia saat ini, pusaran konflik perbedaan terkooptasi oleh pemahaman agama.  Walaupun bila diteliti lebih lanjut, konflik agama bukan hanya semata-mata persoalan agama akan tetapi ada faktor penguasa dan ekonomi di dalamnya. 

Konsep keagamaan yang mendoktrin kebenaran suatu agama sebagai jalan keselamatan bagi penganut-penganut keyakinan tersebut, di pemahaman lainnya, penganut keyakinan tadi tidak dapat menggunakan keabsolutan pemahamannya dalam memahami keabsolutan sang pencipta.  Pemahaman, pandangan dan pembelaan atas klaim kebenaran suatu agama merupakan jalan mulia bagi pemeluknya.  Konflik-konflik atas nama agama merupakan perbedaan opini tentang klaim agama yang paling benar dan terbaik dibandingkan agama lawannya yang dianggap palsu dan tidak up to date.  Bagi manusia yang di luar lingkaran konflik, konflik tersebut menunjukkan tidak ada satupun klaim kebenaran agama yang sesungguhnya benar, sebab bila agama itu benar maka akan dapat memberikan petunjuk kepada pengikutnya untuk dapat memberikan kritikan yang berprinsip, bukan sinisme ataupun tidak berkonflik sesuai yang diajarkan dalam kitab sucinya.

Semakin tajamnya konflik atas nama agama ini, terlihat dengan munculnya gerakan yang intoleran, menyeruaknya faham-faham radikal, serta menggeliatnya pemikiran-pemikiran takfiri yang tersulut melalui gerakan kekerasan atas nama agama (terorisme), hal ini terjadi ketika agama memerintahkan kepada pengikutnya untuk memberitahukan dan mengabarkan tentang kebenaran agama yang dimilikinya, sehingga banyak ditafsirkan secara militan dan fanatik oleh para pemeluknya dengan cara yang tidak selaras dengan perintah setiap agama yakni membuat kebaikan dan kebajikan di muka bumi.  Bahkan terdapat pemikiran yang keliru dan salah kaprah, ketika para pemeluk agama menyatakan bahwa kebaikan akan terbuang sia-sia jika diberikan kepada orang yang tidak layak untuk menerimanya.  Padahal, kebaikan itu sebenarnya seperti hujan yang turun di manapun, baik di tanah kebun yang subur maupun di tempat sampah sekalipun, karena bisa saja kebaikan tersebut memenuhi apa yang dibutuhkan oleh orang yang tidak kita anggap layak untuk menerimanya.

Pada dasarnya perbedaan dalam agama termasuk aliran atau mahzab dalam satu agama, akan selalu ada karena perbedaan rumusan keimanan antar agama itu sendiri, penyelesaian konflik agama dapat diselesaikan dengan metode dialog yang menumbuhkan sikap toleran.  Sejatinya sikap toleransi itu adalah untuk saling memahami dan mempererat ke luar serta menguatkan dan meneguhkan ke dalam.  Diskusi dan toleransi berfungsi agar setiap pemeluk agama berusaha untuk memahami agama lain dengan agama yang dianutnya, bukan menyangkal kebenaran agama lain, dan mengurangi keimanan penganut agama lain, namun lebih membuat mempertebal dan meneguhkan keimanan setiap pemeluk agama yang berdialog, karena sebenarnya agama itu untuk kedamaian, kebaikan dan kebajikan. 

Ada sebuah contoh keindahan cara berpikir manusia yakni diskusi yang membahas tentang manusia yang bisa masuk ke surga, Islam mengklaim bahwa setiap manusia yang beragama Islam pasti akan masuk ke surga, setiap orang yang mengucapkan syahadat merupakan sebuah kunci untuk membuka pintu surga dan bagi yang tidak beragam Islam maka tidak akan memiliki kunci untuk membuka pintu surga, begitu juga kristiani, budha, hindu, Yahudi serta agama dan keyakinan lainnya akan mengklaim hal yang serupa dengan pandangan agama yang berbeda tentang surga, kemudian pertanyaannya adalah, ketika seseorang tidak beragama sesuai dengan kriteria agama tertentu untuk masuk ke surga, namun di dalam hidupnya selalu menaburkan kebaikan dan kebajikan, menjadi suri tauladan dan tokoh yang mewariskan keilmuan yang sangat berguna bagi peradaban manusia, apakah seseorang tersebut tetap tidak akan masuk surga, yang artinya insan tersebut akan masuk neraka.  Tentu saja kasus ini akan menjadi pembahasan yang tidak akan ada habisnya di setiap diskusi antar agama, karena perbedaan keimanan di setiap agama tersebut.  ”Orang baik” pasti akan masuk ke surga, maka itu akan menjadi kata kunci bagi setiap agama, karena di situlah letak keadilan Tuhan, bagaimana cara masuknya ke surga, maka banyak hal yang akan bisa dijadikan alasan logis sebuah keimanan di setiap pemeluk agama, untuk agama Islam misalnya dengan mudah alasan logisnya adalah karena kebaikan yang telah di tabur semasa hidupnya di dunia, maka sebelum ajalnya dengan kesadaran penuh melalui ijin Allah swt, lewat bimbingan para malaikat dan syafaat Rosululloh, seseorang tersebut membaca dua kalimat syahadat pengakuan Allah sebagai Tuhan yang satu dan Muhammad adalah Utusan Allah.  Begitu juga bila versi agama kristiani maka ada alasan logis yang menyebabkan seseorang tersebut masuk surga karena sebelum ajalnya telah menyebutkan ke-esa-an Tuhan melalui trinitas Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Roh kudus, begitu juga versi agama dan keyakinan lainnya sehingga dari diskusi ini akan timbul usaha untuk memahami pemeluk agama lain dengan agama yang di anutnya.

Manusia sejatinya sadar bahwa kelahirannya di dunia ini dengan sebuah tangan seniman yang menciptakan karya dengan maha indah, terciptanya keindahan tersebut tentu saja dengan sebuah tujuan, sebagai bentuk ciptaan yang indah maka tentu saja pancaran yang di timbulkannya akan bernilai indah maka merugilah manusia yang tidak menyadari bahwa alam semesta ini diciptakan untuk melengkapi sebuah karya keindahan yang bernama manusia.  Memadu kasihlah, saling mencintailah dan menyatulahlah antar sesama keindahan, karena bila keindahan telah bersemai di didiri manusia maka kebaikan dan kedamaian akan terpancar ke seluruh alam semesta.


Oleh:
Muhammad Husni Fahruddin Al Ayub
Youth Institute