Share ke media
Populer

Rusaknya Generasi Harapan Bangsa

31 Oct 2018 05:00:1041 Dibaca
No Photo
Ilustrasi : Generasi yang Hilang ( Laman Suara-Islam.Com, 07/09/2018). Inset Penulis/Kontributor : Ratna Munjiah (Pemerhati Generasi Muda)

Kekerasan dan pergaulan bebas menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini. Remaja yang seharusnya menjadi harapan dan cikal bakal pembangun generasi yang akan datang, namun faktanya tersesat oleh arus perkembangan zaman yang demikian deras. 

Berita-berita tentang rusaknya pergaulan remaja hampir mewarnai pada setiap media. Seperti yang diberitakan pada salah satu media (tribunlampung.co.id) salah satu sekolah ditemukan 12 siswinya dalam kondisi hamil. 

Lain lagi dengan temuan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia  (PKBILampung mencengangkan. Pergaulan bebas riskan terjadi terutama di lingkungan kampus, sekolah maupun kosan. Tak jarang kondisi ini menyebabkan kerugian, terutama kepada remaja yang masih menempuh pendidikan. 

Ditektur PKBI Lampung Dwi Hafsah Handayani mengatakan, dirinya pernah melakukan survey ke apotek di sekitar kampus dan kosan. “Dalam satu bulan ada 100 kondom terjual. Ini kan sangat memprihatinkan,” kata Hafsah. Bahkan diakuinya, ada kejadian di satu sekolah menengah pertama (SMP) di Lampung, dimana sebanyak 12 anak didiknya hamil. Dan itu merata terjadi di kelas VII, XIII dan IX. “Sekolah bilang bersih, tapi dicek di guru BK, ternyata ada muridnya yang hamil,” tambah Hafsah. “Siswi SMP ada 12 yang hamil di satu sekolah. Itu ada di salah satu kabupaten di Lampung,” lanjut Hafsah

Adanya fakta tersebut, tentu akan membuat setiap orang mengerenyitkan dahi dan menarik nafas dalam-dalam.  Betapa menyedihkan melihat kondisi yang demikian, anak yang seharusnya menjadi generasi penerus untuk membangun bangsa, tetapi rusak oleh arus pergaulan dan kemajuan zaman. 

Sederet potret buram remaja menjadi bukti kegagalan sistem kapitalis yang diterapkan, di antaranya melalui sistem pendidikan generasi saat ini. Sistem pendidikan sekuler telah menyita sebagian besar waktu dan tenaga siswa untuk mengabaikan aspek pembentukan kepribadian yang kuat. Sekolah sebagai institusi pendidikan alih-alih mencetak remaja yang berkualitas yang memiliki kepribadian yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan, namun justru menghasilkan remaja yang menciptakan banyak masalah. 

Maraknya pergaulan bebas akibat sistem sekuler telah melahirkan generasi yang rusak bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Media sosial sebagai produk teknologi Barat merupakan “madaniyah” yang sarat dengan “hadaroh barat” terbukti sebagai mesin perusak dan penghancur generasi muslim.  Kehidupan kapitalistik yang berlaku saat ini tidak hanya menjadi pangkal persoalan remaja di sekolah. Keluarga pun terkena imbasnya. Dimana keluarga adalah basis pendidikan yang utama bagi setiap insan. 

Namun, sistem kapitalisme telah memaksa para orangtua abai dalam proses pendidikan anak-anaknya. Kapitalisme telah menyebabkan beban hidup setiap keluarga terus mencekik. Keluargapun harus memutar otak mencari penghidupan. Dengan dalih mencapai penghidupan yang layak inilah, ayah dan ibu sibuk bekerja siang dan malam. Akibatnya, anak terabaikan. 

Potret buram remaja sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman dan prilaku remaja. Untuk itu diperlukan peran dari berbagai unsur : Sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada remaja, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa. Semuanya harus bersinergis untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja. 

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Alllah SWT. Orangtua wajib mendidik anak-anaknya tentang prilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam. 

Mereka diajarkan untuk memilih pergaulan yang benar agar terhindar dari pergaulan bebas, diajarkan bagaimana mengelola media yang baik untuk menanamkan aqidah dan ketaatan terhadap Allah SWT, sehingga sampai padanya pemahaman bahwa Islam memiliki solusi terhadap semua problematika kehidupan. Dengan pemahaman akidah yang benar maka kelak akan terbentuk pribadi anak yang sholeh dan sholeha dan terikat dengan aturan Islam. 

Masyarakat juga memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena remaja merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam proses pertumbuhan dan perkembangan remaja. Demikian pula peran Negara, merupakan bagian yang paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian remaja melalui pemberlakuan sistem pendidikan. 

Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar penentu arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar-mengajar termaksud penentuan kualitas guru/dosen serta budaya sekolah/kampus tempat remaja eksis di dalamnya. 

Negara juga wajib mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi, terutama media yang memberi pengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak. Peran negara seperti ini tentu tidak akan terwujud dalam tatanan sistem kapitalis, bukan malah berwacana akan menghapus mata pelajaran yang berbasis Islam. Hanya Negara yang menerapkan Islam secara kaffah yang mampu melaksanakan peran strategis ini. Oleh karenanya sudah selayaknya pemerintah berorientasi kepada sistem Islam. Agar anak-anak kita, remaja-remaja kita bisa menjadi generasi Khoiru Ummah yang bisa menjadikan Negara kita Negara yang besar. Wallahua’lam. (*Red/dr)

Penulis / Kontributor : Ratna Munjiah (Pemerhati Generasi Muda)