Share ke media
Fashion

Borneo Chic: Menjaga Hutan lewat Kerajinan Nonkayu (2-Habis)

13 Mar 2018 10:17:0998 Dibaca
No Photo
Borneo Chic: Menjaga Hutan lewat Kerajinan Nonkayu (2-Habis)

Borneo Chic—sebuah merek tas karya masyarakat Dayak, Kalimantan—perlahan tak hanya membidik pangsa dalam negeri.

Lewat sistem indirect, aksesoris bagi kaum Hawa itu juga diekspor hingga mananegara. Pola indirect sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Kendati diminati pasar, Borneo Chic belum bisa diproduksi secara massal.

Selain karena sumber daya pengerajin yang terbatas dan produk ini benar-benar dibuat dengan tangan, material yang digunakan juga terbatas.

Ya, ekspansi Borneo Chic untuk memperkenalkan karya masyarakat Dayak itu saat ini dilakukan via pameran di luar negeri. Lewat kesempatan itu, banyak warga asing yang melirik dan membeli Borneo Chic untuk dibawa ke negara mereka.

“Sejauh ini, warga asing yang banyak tertarik berasal dari Jepang dan negara-negara Eropa. Untuk presentase konsumen lokal dan ekspatriat sekira 50 persen,” ujar Niken Mayangsari, Business Manager Borneo Chic.

Lebih jauh, Borneo Chic memang membidik komunitas ekspatriat yang sangat menghargai produk-produk kerajinan tangan. Kondisi ini serupa dengan konsumen lokal kelas atas.

Bagi Niken, banyak istri pejabat yang tertarik dengan Borneo Chic. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap harga Borneo Chic terlampau mahal untuk produk dalam negeri.

“Kami jual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Memang masing banyak konsumen yang menganggap mahal. Padahal produk kami semuanya buatan tangan dengan material terbatas,” jelasnya.

Tertatih-tatih di local market, Niken mengaku tetap bersyukur atas eksistensi Borneo Chic. Setiap tahun, Niken menyebut Borneo Chic mampu memenuhi target penjualan hingga 10 persen.

Dibalik semua pergulatan itu, Niken berharap semakin banyak masyarakat yang memahami produk-produk daerah yang mengangkat kearifan lokal dan cerita dibaliknya.

“Kami juga berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih untuk inisiasi seperti yang kami lakukan. Karena saat ini, pemerintah jauh lebih memerhatikan personal business dibandingkan community business,” tukasnya. (*)