Share ke media
Pendidikan

Bunda PAUD Desa di Kukar Diminta Aktif Sosialisasikan Pengentasan Kemiskinan dan Stunting

22 Oct 2023 01:00:4968 Dibaca
No Photo
Bunda PAUD Kukar Maslianawati saat membuka seminar parenting transisi PAUD menuju SD yang menyenangkan dan merupakan bagian pengentasan Stunting garapan Disdikbud di BPU Marang Kayu, Sabtu (21/10/2023). (istimewa)

Tenggarong – Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di setiap desa di Kutai Kartanegara (Kukar) diminta berperan aktif dalam pendidikan generasi emas, menyosialisasikan pengentasan kemiskinan dan stunting. Ajakan ini disampaikan Bunda PAUD Kukar Maslianawati Edi Damansyah saat membuka seminar parenting transisi PAUD menuju SD yang menyenangkan dan merupakan bagian pengentasan Stunting garapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) di BPU Marangkayu, Sabtu (21/10/2023).

“Saya minta Bunda-Bunda PAUD Desa yang merupakan istri dari kepala desa masing-masing di Marang Kayu, agar turun ke pendidikan PAUD. Bersosialisasi dan galakkan gerakan nyata turut berkontribusi dalam program pemerintah yakni pengentasan kemiskinan dan stunting,” ungkapnya.

Maslianawati menyebut, keberadaan PAUD untuk mengajarkan dan melatih anak usia dini bagaimana berteman dan bersosial. Karena menurutnya anak usia nol hingga delapan tahun masih masuk dalam kategori usia dini. Sehingga anak-anak SD yang berada di kelas satu dan dua tidak harus dipaksakan bisa baca, tulis, dan berhitung.

“Anak usia PAUD bukan lagi nol sampai enam tahun, namun nol sampai delapan tahun. Sehingga anak-anak sekolah dasar yang berada di kelas satu dan dua jangan dipaksakan bisa baca, tulis dan berhitung (calistung),” sebutnya.

Lebih lanjut Maslianawati mengatakan, seminar kelas parenting tersebut untuk memberikan pemahaman kepada para orang tua bagaimana mendidik anak. Karena pendidikan itu menurutnya tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga.

“Saya berharap agar setiap sekolah dalam penerimaan siswa baru tidak hanya berfokus pada siswa lulusan PAUD semata. Namun juga menerima calon siswa yang telah memasuki masa usia sekolah yaitu usia tujuh tahun dan anak-anak yang berkebutuhan khusus,” tuturnya.

Sekretaris Disdikbud Kukar Maria Ester mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan agar semua peserta bisa memahami dan bekerja sama. Khususnya berkaitan pemahaman dan penanganan pendidikan serta stunting. Dengan harapan nantinya melalui pola pendidikan dan penanganan stunting yang baik akan menciptakan generasi emas penerus bangsa Indonesia.

“Penanganan stunting Dinas Pendidikan telah di semua jenjang sesuai kewenangan. Jenjang PAUD, SD, dan SMP, dan ini terus dilakukan sosialisasi sehingga arah dan kebijakan pendidikan dapat tercapai dengan baik,” tegasnya. (dn)