Share ke media
Populer

Cerita Kegelisahan Anak Cucu

13 Mar 2018 08:24:1268 Dibaca

Oleh: M. Husni Fahruddin Al Ayub, A.Md, S.Hut, SH, MH CLA - Ketua Tim Pemenangan AnNuR

Menyimak visi-misi AnNuR kadang membuat saya cemas. Isinya memang hanya barisan kata yang menjadi kalimat. 

Namun di balik itu, ada pelbagai data; rentetan angka yang membuat saya gelisah saban hari.

Angka-angka itu menunjukkan bagaimana perjalanan Kalimantan Timur—sebagai sebuah provinsi—yang terbelenggu sistem—mungkin pula budaya—perekonomian hari ini. Bagaimana sekira 47 tahun, alam sekitar kita telah binasa. Pohon-pohon tua yang dulu sering diceritakan oleh para tetua menjadi penyangga langit, tumbang dihajar kemajuan zaman. Flora dan fauna khas Bumi Mulawarman terancam punah. 

Anggrek hitam yang dulu bisa kita jumpai di kedalaman hutan, sudah sukar dijumpai. Ikan pesut yang dulu sering kita sapa di tepian Sungai Mahakam, menyingkir dari bisingnya kampung yang berubah menjadi kota. Mereka seolah menjadi legenda urban.

Tak terbayangkan bagaimana nanti kehidupan di Kaltim bila sekelumit cerita kelam itu terus berlanjut.

Hari ini, saya ingin merapal lagi janji. Kali ini tak sekadar untuk anak saya, tetapi juga anak-anak lain, dari para orangtua yang lain, bahwa saya harus berbuat dan bertindak. Detik ini juga. Hari ini juga.

Tapi saya hanyalah manusia biasa yang tak akan mampu melakukan itu seorang diri. Saya butuh manusia-manusia lain—yang punya sedikit saja rasa empati dan peduli—untuk berbuat sesuatu hari ini. 

Dulu, saya suka melihat kunang-kunang. Hal yang kini rasanya muskil dijumpai saat pendaraan cahayanya kalah bersaing dengan lampu neon di rumah-rumah dan jalan protokol kota.

Saya ingin menghadirkan lagi kunang-kunang itu ditengah anak saya. Pun bagi anak-anak lain di manapun saat ini mereka berada. Ia, kunang-kunang itu, akan menjadi pelipur lara saat mereka merasa lelah bermain seharian. Ya, ia menjadi penawar harapan bahwa kehidupan di sekitar mereka akan baik-baik saja. (*)